berita
- By Wilda Fizriyani
- 15 Jun 2026
- 22
Bawa Medali Perak, Santri PPI AMF Ciptakan Panel Peredam Suara dari Ampas Tebu dan Sabut Kelapa
MALANG – Enam santri Pondok
Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF) Malang berhasil
mendapatkan medali perak dalam kompetisi Bali International Science Fair (BISF)
2026. Enam santri yang duduk di bangku SMP Abdul Malik Fadjar ini sebelumnya
membuat inovasi bernama Ecouiet.
Perwakilan tim, Haidar Abimanyu
Tuarita menyatakan, inovasinya berhubungan dengan panel peredam suara. Panel ini
dibuat dari limbah ampas tebu, sabut kelapa, dan kertas tidak terpakai. “Juga
ada campuran arang hitam juga,” kata siswa kelas 8 ini di PPI AMF, Malang,
Senin (15/6/2026).
Pria disapa Abi ini menjelaskan, tekstur
inovasinya hampir sama dengan semen. Panel tersebut terdiri atas tiga lapisan
yang kemudian ditempelkan di boks kardus. Tebal dari panel ini sekitar 2,5
centimeter (cm).
Lebih rinci, lapisan terluar
panel terbuat dari ampas tebu dan kertas. Kemudian, lapisan kedua berbahan sabut kelapa dan arang. Sementara
itu, lapisan terakhir berbahan kertas yang dihancurkan.
Setelah panel terpasang dengan
baik, Abi dan tim melakukan uji coba sederhana dengan menyetel musik di dalam
boks. Sementara itu, alat pendeteksi suaranya diletakkan di luar boks. “Dan
alat pendeteksi yang kita pakai itu decibel meter. Itu bisa diunduh di
Playstore,” kata Abi.
Dengan adanya inovasi, Abi dan
tim berharap dapat membantu mengurangi kebisingan di tempat belajar. Pasalnya,
tim tidak menampik, ide inovasinya terinspirasi dari kondisi yang terjadi di
sekitar. Hal yang pasti, kata dia, inovasinya lebih aman karena membuat bahan
yang ramah lingkungan.
Temui tantangan selama proses pembuatan
Anggota lain dari tim, Muhammad Mahir dan Faizul Umam
mengaku, menemukan sedikit tantangan selama proses pembuata panel. Waktu pembuatan
inovasi yang singkat membuat tim merasa kurang maksimal. Belum lagi pembuatan panel
yang terkadang sulit menemukan tekstur yang diinginkan.
Secara umum, proses pembuatan Ecouiet berlangsung selama
empat pekan. Pekan pertama digunakan untuk pengembangan ide, lalu minggu selanjutnya
untuk menyusun tulisan. Kemudian, pekan ketiga dan keempat mulai melakukan pembuatan
inovasi dan menulis hasilnya.
Pada kesempatan lain, Pembina Karya Ilmiah Remaja (KIR) PPI
AMF, Nabila Almayda merasa bersyukur atas capaian para santri. “Semoga
santri-santri PPI AMF dapat terus berkembang dengan berbagai inovasi dan
prestasi,” kata perempuan yang sedang studi doktoral di Universitas Brawijaya
ini.
Sebagai informasi, BISF 2026 merupakan ajang kompetisi yang
diselenggarakan oleh Indonesian Young Scientist Association (IYSA). Ajang yang
ditunjukkan untuk tingkat SMP dan SMA ini tidak hanya diikuti oleh Indonesia,
tetapi juga beberapa negara lain, seperti Amerika Serikat, negara-negara Asia
Tenggara, Kazakhstan, dan Uzbekistan. Adapun untuk peserta dari PPI AMF, timnya
terdiri atas Ahmad Adila Al Ghifari, Abyan
Agha Al Ghifari, Faizul Umam, Farrand Al Azka, Haidar Abimanyu Tuarita, dan Muhammad
Mahir.
