berita

Bawa Medali Perak, Santri PPI AMF Ciptakan Panel Peredam Suara dari Ampas Tebu dan Sabut Kelapa

MALANG – Enam santri Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF) Malang berhasil mendapatkan medali perak dalam kompetisi Bali International Science Fair (BISF) 2026. Enam santri yang duduk di bangku SMP Abdul Malik Fadjar ini sebelumnya membuat inovasi bernama Ecouiet.

Perwakilan tim, Haidar Abimanyu Tuarita menyatakan, inovasinya berhubungan dengan panel peredam suara. Panel ini dibuat dari limbah ampas tebu, sabut kelapa, dan kertas tidak terpakai. “Juga ada campuran arang hitam juga,” kata siswa kelas 8 ini di PPI AMF, Malang, Senin (15/6/2026).

Pria disapa Abi ini menjelaskan, tekstur inovasinya hampir sama dengan semen. Panel tersebut terdiri atas tiga lapisan yang kemudian ditempelkan di boks kardus. Tebal dari panel ini sekitar 2,5 centimeter (cm).

Lebih rinci, lapisan terluar panel terbuat dari ampas tebu dan kertas. Kemudian, lapisan kedua  berbahan sabut kelapa dan arang. Sementara itu, lapisan terakhir berbahan kertas yang dihancurkan.

Setelah panel terpasang dengan baik, Abi dan tim melakukan uji coba sederhana dengan menyetel musik di dalam boks. Sementara itu, alat pendeteksi suaranya diletakkan di luar boks. “Dan alat pendeteksi yang kita pakai itu decibel meter. Itu bisa diunduh di Playstore,” kata Abi.

Dengan adanya inovasi, Abi dan tim berharap dapat membantu mengurangi kebisingan di tempat belajar. Pasalnya, tim tidak menampik, ide inovasinya terinspirasi dari kondisi yang terjadi di sekitar. Hal yang pasti, kata dia, inovasinya lebih aman karena membuat bahan yang ramah lingkungan.

 

Temui tantangan selama proses pembuatan

Anggota lain dari tim, Muhammad Mahir dan Faizul Umam mengaku, menemukan sedikit tantangan selama proses pembuata panel. Waktu pembuatan inovasi yang singkat membuat tim merasa kurang maksimal. Belum lagi pembuatan panel yang terkadang sulit menemukan tekstur yang diinginkan.

 

Secara umum, proses pembuatan Ecouiet berlangsung selama empat pekan. Pekan pertama digunakan untuk pengembangan ide, lalu minggu selanjutnya untuk menyusun tulisan. Kemudian, pekan ketiga dan keempat mulai melakukan pembuatan inovasi dan menulis hasilnya.

 

Pada kesempatan lain, Pembina Karya Ilmiah Remaja (KIR) PPI AMF, Nabila Almayda merasa bersyukur atas capaian para santri. “Semoga santri-santri PPI AMF dapat terus berkembang dengan berbagai inovasi dan prestasi,” kata perempuan yang sedang studi doktoral di Universitas Brawijaya ini.

Sebagai informasi, BISF 2026 merupakan ajang kompetisi yang diselenggarakan oleh Indonesian Young Scientist Association (IYSA). Ajang yang ditunjukkan untuk tingkat SMP dan SMA ini tidak hanya diikuti oleh Indonesia, tetapi juga beberapa negara lain, seperti Amerika Serikat, negara-negara Asia Tenggara, Kazakhstan, dan Uzbekistan. Adapun untuk peserta dari PPI AMF, timnya terdiri atas  Ahmad Adila Al Ghifari, Abyan Agha Al Ghifari, Faizul Umam, Farrand Al Azka, Haidar Abimanyu Tuarita, dan Muhammad Mahir.