berita

Santri PPI AMF Diajarkan Berpikir Kritis Tangkal Informasi Hoaks

MALANG – Santri Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF) diajarkan berpikir kritis guna menangkal informasi hoaks. Hal ini dilakukan melalui kegiatan “Digital Literacy Education: Tackling Hoaxes Wisely and Responsibly” yang dilaksanakan pada Sabtu (14/2/2026) di Aula PPI AMF.

Pembina Kelas Jurnalistik, Wilda Fizriyani menyatakan, kegiatan ini sebenarnya bagian dari program ektrakurikuler bidang jurnalistik. “Awalnya hanya untuk santri yang mengikuti kelas jurnalistik tetapi karena dianggap bagus, y akita laksanakan untuk semua santri,” kata Wilda.

Secara keseluruhan, kegiatan ini dilatarbelakangi dengan adanya perkembangan media digital. Situasi ini membuat informasi menyebar sangat cepat di kalangan remaja, termasuk santri SMP dan SMA. Namun, tidak semua informasi yang beredar dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Menurut Wilda, berita hoaks berpotensi menimbulkan kesalahpahaman, kepanikan, bahkan konflik sosial. Oleh karena itu, diperlukan kegiatan edukasi literasi digital yang membekali santri dengan kemampuan berpikir kritis. Kemudian juga dapat mengenali ciri-ciri hoaks dan bersikap bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi.

Pada kegiatan ini, para santri tidak hanya diajarkan mengenai konsep dasar cek fakta sebagai bagian dari cara untuk menangkal informasi hoaks. Mereka juga dikenal berbagai situs yang dapat digunakan untuk memverifikasi informasi yang beredar di masyarakat. Dua di antaranya adalah Reverse Image Search dan Google Street View.

Pemateri kegiatan, As’ad Arifin menyatakan, para santri secara keseluruhan belajar bersama tentang Cek Fakta untuk tingkat dasar. Sebagai langkah awal, mereka dikenalkan untuk memakai tools yang disediakan Google. “Teknik yang dipakai masih yang sederhana seperti dengan Google Reserve Image dan Google Steet View,” kata pria yang juga anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Malang Bidang Internet ini.

 

Melalui kegiatan ini, dia ingin para santri di PPI AMF dapat menjadi generasi yang punya literasi digital kuat. Mereka paham bahwa tidak semua informasi yang didapat itu benar dan bisa langsung dibagikan. Lalu juga bisa tahu bagaimana cara atau langkah-langkah untuk mengidentifikasi dan menyampaikan sebuah informasi yang keliru.