berita
- By Hasanuddin Jimly Ahmad Zain
- 27 Aug 2026
- 66
Four Ways of Thinking: Mengupas Cara Kerja Otak Memecahkan Masalah
Jika manusia diberkahi dengan akal pikiran sebagai kelebihan, maka otak adalah bukti fisik yang mengamininya. Organ tubuh yang “hanya” memiliki berat kurang dari dua kilogram itu ternyata memiliki lebih dari 80 miliar sel saraf dan neuron dengan kemampuan luar biasa mengatur aktivitas pikiran, fisik, dan emosi manusia. Fakta tersebut yang kemudian menjadikan otak sebagai organ tubuh yang paling sering dijadikan sebagai objek penelitian.
Salah satu hasil penelitian otak manusia paling menarik adalah penelitian yang dikemukakan oleh David Sumpter. Beliau adalah seorang profesor bidang matematika terapan asal Uppsala University, Swedia yang banyak membahas matematika sebagai disiplin ilmu yang dapat diterapkan di berbagai lini kehidupan. Dalam penelitian yang dilakukan dengan mengintegrasikan bidang perilaku kolektif, psikologi sosial, dan kecerdasan buatan selama puluhan tahun itu, beliau menyatakan otak manusia secara matematis bekerja dengan empat metode berpikir yang kemudian dikenal sebagai Four ways of thinking: Statistical, Interactive, Chaotic, and Complex.
Statistical Thinking (Pola Pikir Statistikal): No Data, No Trust
Prinsip berpikir statistikal mendorong manusia untuk mendasarkan keputusan penerimaan fakta. Setiap informasi, baik berpola ataupun abstrak, akan diproses sebagai data sehingga kesimpulan paling logis dapat diambil. Manusia yang dominan dengan pola pikir ini cenderung mengesampingkan perasaan emosionalnya. Pilihannya akan diambil secara terukur berdasarkan data dan tidak tergoyahkan terlebih oleh sudut pandang yang tidak berdasar.
Interactive Thinking (Pola Pikir Interaktif): Peka dengan Hubungan Interpersonal
Berpikir interaktif mengarah pada konteks yang lebih luas daripada sekedar mengambil keputusan. Pola pikir ini memiliki titik berat pada hubungan antar personal yang dapat menjadi faktor penentu keputusan. Manusia yang interaktif pola pikirnya akan lebih peka pada dampak yang timbul setelah keputusan diambil. Dengan konsekuensi tersebut, pola pikir ini cocok diterapkan pada pengelolaan konflik atau negosiasi.
Chaotic Thinking (Pola Pikir Kaotik): Stoik yang Santai
Chaotic thinking memiliki prinsip bahwa ketidakpastian adalah sebuah kepastian juga. Manusia dengan pola pikir ini akan memilih fokus pada apa yang bisa dikontrol dan fleksibel terhadap berbagai kemungkinan. Bagi mereka, kegagalan hanyalah produk ketidakpastian yang cukup diimprovisasi sebagai pijakan keputusan selanjutnya tanpa harus diambil pusing. Biasanya, manusia dengan cara berpikir seperti ini akan berkarakter santai dan tidak mudah terpapar stres.
Complex Thinking (Pola Pikir Kompleks): Pemilik Sudut Pandang Terluas
Manusia dengan pola pikir kompleks melihat segala hal di dunia sebagai sistem yang saling berkaitan. Setiap keputusan akan diambil dengan pertimbangan matang terlepas masalah yang dihadapi ternyata hal yang sederhana sebab pola pikir ini harus memperhitungkan banyak variabel. Complex thinking cocok untuk level pimpinan yang harus memutuskan setiap persoalan krusial.
Dalam praktik sehari-hari, keempat metode berpikir tersebut tidak datang sebagai bagian yang terpisah. Otak dikaruniai dengan kemampuan untuk mengaturnya menjadi sesuatu yang saling melengkapi. Statistical thinking yang biasanya logis tapi kaku memerlukan sentuhan manusiawi dari interactive thinking. Atau Chaotic thinking yang kadang dipilih sebagai penyeimbang complex thinking agar otak manusia tetap dalam batas kewarasan.
David Sumpter melalui konsep four ways of thinking-nya memberi kita kesadaran bahwa sebenarnya sikap dan keputusan seseorang dapat dipahami sebagai kecenderungannya dalam meyakini pilihannya dalam menyelesaikan masalah. Tentu saja karena subjektivitasnya, kita kerap kali mempertanyakan bagaimana bisa seseorang menyelesaikan masalah dengan cara yang sama sekali berbeda dengan kita. Padahal pengalaman yang dilalui setiap manusia bersifat unik. Sehingga benar dan salahnya penyelesaian masalah menjadi tidak relevan jika dibandingkan satu sama lain.
Dengan merujuk pada konsep ini, dapat kita mengerti juga bahwa persoalan yang diselesaikan dengan pola pikir yang tepat dapat memberikan hasil terbaik. Jadi, pola pikir seperti apa yang dominan kamu pakai sehari-hari?
Editor: Wilda Fizriyani
