berita

Langkah Sunyi Sang Mahatma: Menundukkan Kekaisaran Tanpa Mengangkat Senjata

Mohandas Karamchand Gandhi, pria yang kelak dikenal secara global dengan julukan “Mahatma”. Mahatma lahir pada 2 Oktober 1869 di Porbandar, sebuah kota kecil di Gujarat, India. Ia tumbuh dalam keluarga Hindu di kalangan menengah yang memegang teguh nilai-nilai kedisiplinan, kejujuran, dan ajaran moral agama. Ibunya, Putlibai, yang sangat taat agama, memberikan pengaruh spiritual yang sangat kuat dalam membentuk karakter masa kecil Gandhi, terutama dalam hal kesederhanaan dan prinsip pantang menyakiti sesama.

Di masa mudanya, Gandhi bukanlah seorang anak yang terlahir jenius atau terampil. Ia dikenal pemalu, penakut, dan memiliki nilai akademik yang biasa-biasa saja d iantara teman-teman sekolahnya. Pada usia 13 tahun, Gandhi menikah dengan Kasturba Kapadia melalui tradisi pernikahan yang diatur oleh keluarga. 

Pernikahan anak-anak ini berlangsung tanpa pemahaman mendalam dari kedua belah pihak tentang arti sebuah rumah tangga. Pernikahan mereka berjalan dengan semestinya, Gandhi tumbuh menjadi suami yang sangat posesif, cemburu, dan suka mengatur, sementara Kasturba adalah sosok yang mandiri dan tidak ragu untuk mempertahankan pendiriannya.

Tetapi seiring berjalannya waktu, hubungan mereka mengalami perubahan yang luar biasa. Kasturba bukan lagi sekadar pendamping hidup, melainkan pilar kekuatan mendasar bagi gerakan perjuangan Gandhi.

Pada usia 18 tahun, Gandhi memberanikan diri pergi berangkat ke London untuk menempuh pendidikan hukum di Inner Temple. Ia memulai studi tersebut pada 1888 dan menyelesaikannya pada 1891. Lalu ia pulang ke India dengan membawa ijazah pengacara di tangannya. 

Sekembalinya ke tanah air, Gandhi mencoba untuk membuka praktik hukum di Bombay atau sekarang lebih dikenal sebagai Mumbai. Namun, awal kariernya di sana tidak berjalan dengan mulus,  sifat pemalunya kerap membuat lidahnya kaku di hadapan hakim. Namun, takdir membuka jalan baru saat sebuah firma hukum memberinya kesempatan bekerja di Afrika Selatan pada 1893.

Kepindahan ke Afrika Selatan yang awalnya hanya diniatkan untuk kontrak kerja singkat selama satu tahun, justru menjadi pengalaman berat yang mengubah jalan hidup Gandhi selamanya. Di sana, ia pertama kali mengalami kejamnya diskriminasi rasial. 

Peristiwa paling bersejarah terjadi ketika ia diusir secara paksa dari gerbong kereta api kelas satu di Pietermaritzburg karena warna kulitnya. Pengalaman pahit tersebut 

tidak meruntuhkan mentalnya, melainkan menyalakan api perlawanan dalam jiwanya untuk membela hak-hak warga India dan kaum minoritas di Afrika Selatan.

Selama lebih dari dua dekade tinggal di sana, Gandhi melahirkan dan mematangkan filosofi Satyagraha—sebuah metode perlawanan tanpa kekerasan yang berlandaskan pada kebenaran dan keteguhan jiwa. Ia mengorganisasi aksi-aksi pemogokan damai, memimpin demonstrasi, dan berulang kali masuk penjara demi menuntut keadilan. Di Afrika Selatan pulalah tradisi kesederhanaan dan hidup komunal mulai ia terapkan secara nyata melalui pembentukan pemukiman Phoenix Settlement dan Tolstoy Farm.

Pada 1915, Gandhi kembali ke tanah airnya, India, sebagai sosok yang telah matang secara spiritual dan politik. Disambut sebagai pahlawan, ia memimpin aksi-aksi besar menentang kolonialisme Inggris, seperti Tragedi Chauri Chaura, gerakan Ahimsa (tanpa kekerasan), serta Satyagraha Garam (Dandi March) yang ikonik pada 1930. Kepemimpinannya yang sederhana—hanya berbalut kain dhoti tenun tangan—mampu menyatukan jutaan rakyat India dari berbagai latar belakang agama dan kasta.

Perjuangan panjang tersebut akhirnya membuahkan hasil saat India meraih kemerdekaannya pada 15 Agustus 1947. Namun, kemenangan ini diwarnai duka mendalam bagi Gandhi karena terbelahnya India dan Pakistan yang memicu konflik sektarian berdarah. 

Di tengah usahanya untuk meredam pertikaian dan menyebarkan pesan perdamaian antarumat beragama, takdir tragis menjemputnya. Pada 30 Januari 1948, Mahatma Gandhi wafat setelah ditembak oleh seorang ekstremis di New Delhi. Warisan pemikirannya tentang kedamaian, toleransi, dan perlawanan tanpa kekerasan tetap hidup dan terus menginspirasi gerakan hak asasi manusia di seluruh dunia hingga hari ini.




Referensi : 



  1. https://id.wikipedia.org/wiki/Mahatma_Gandhi 
  2. https://sahistory.org.za/dated-event/mk-gandhi-forcibly-removed-whites-only-train-carriage 
  3. https://www.historia.id/article/mahatma-gandhi-pejuang-tanpa-kekerasan 
  4. https://kapito.id/sosok/biografi-mahatma-gan 

 Editor: Wilda Fizriyani