berita

Jurnalis Kompas TV Latih Kemampuan Videografi Santri PPI AMF

MALANG -- Ada banyak cara untuk meningkatkan keahlian dan kemampuan para santri di Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF). Salah satunya dengan menghadirkan profesional dari industri televisi.

Beberapa waktu lalu, PPI AMF mengundang jurnalis Kompas TV, Hilda Daningtyas dalam kegiatan pelatihan videografi. Kegiatan ini diberikan kepada belasan santri yang ikut dalam ekstrakurikuler jurnalistik. Para santri tidak hanya yang berasal dari tingkat SMP, tetapi SMA juga.


Pembina Kelas Jurnalistik, Wilda Fizriyani menyatakan, kegiatan pelatihan ini merupakan rangkaian program yang sudah direncanakan sejak awal. Pihaknya ingin para santri mendapatkan pemahaman langsung mengenai videografi dari ahlinya. "Anak-anak juga bisa praktik membuat videografi, termasuk cara menyiapkan idenya," kata Wilda. 


Malang, 08/11 JURNALIS KOMPAS TV, Hilda Daningtyas menyampaikan materi videografi jurnalistik TV kepada santri yang mengikuti kelas jurnalistik di PPI Malang, Sabtu (08/11/2025). Kegiatan ini bertujuan agar para santri mampu membuat video secara terkonsep. Selain memberikan materi, Hilda juga mengarahkan santri untuk melakukan praktik dalam membuat video Agar materi yang diberikan dapat dipahami dengan lebih mendalam. FOTO PPI AMF/ Haidar Maulana & Farrell Syatir/2025


Sementara itu, Jurnalis Kompas TV, Hilda Daningtyas mengatakan, anak-anak di PPI AMF mendapatkan ilmu bagaimana pengambilan gambar dasar. Mereka juga diajarkan mengenai cara menyusun tema-tema liputan. Setelah itu, mereka langsung praktik membuat video menggunakan alat yang tersedia di sekolah. 



Kegiatan-kegiatan tersebut pada dasarnya bertujuan agar para santri dapat membuat video secara terkonsep. Artinya, mereka tidak asal membuat video yang sembarangan. Terlebih, mereka juga diajarkan cara pengambilan atau teknik gambar yang tepat. 


"Dengan praktik, adiknya bisa mengerti 'oh ini ternyata kalau gambarnya backlight, tipsnya ini. Kalau gambarnya bergerak, tipsnya ini. Kayak gitu," ungkapnya.


Hilda tak menampik sempat mengalami sedikit tantangan selama proses pelatihan. Salah satunya adalah para santri yang tidak diperbolehkan membawa ponsel ke pondok dan sekolah. Itu artinya, anak-anak harus beradaptasi lagi untuk hanya menggunakan ponsel yang sudah disediakan sekolah. 

Hilda berharap para santri PPI AMF bisa terus belajar. Kemudian, juga terus berkembang dan beradaptasi karena saat ini  jurnalistik di dunia pun terus mengalami perubahan. "Saat ini bisa mengambil video. Nanti setelah keluar dari sini bisa menghasilkan karya-karya yang banyak karena dasarnya sudah punya," ucapnya.