berita
- By ATHAYA KAHLFANI & PRAMUDYA AMIR
- 21 Aug 2026
- 72
Mengulik Brain Rot, Seberapa Bahayakah untuk Generasi Muda?
Perkembangan media sosial telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi. Di era modern ini, video singkat berdurasi 15-60 detik menjadi jenis hiburan yang paling sering ditonton oleh masyarakat saat ini terutama kalangan anak muda.
Meskipun video singkat memang dapat menghibur, konsumsi video singkat yang berlebihan dapat memicu fenomena yang dikenal sebagai brain rot. Kondisi ini terjadi ketika seseorang terbiasa menerima informasi secara instan, yang dapat menurunkan kemampuan berpikir kritis dan berkonsentrasi.
Salah satu penyebab terjadinya fenomena ini adalah algoritma media sosial yang terus menampilkan konten singkat sesuai dengan minat pengguna. Akibatnya, banyak orang menghabiskan waktu hanya untuk meng-scroll layar ponsel tanpa tujuan yang jelas.
Sekitar 180 juta orang atau 62,9% populasi Indonesia aktif menggunakan media sosial, dengan 65% di antaranya didominasi oleh Gen Z dan Milenial. Sebanyak 78% pengguna di kelompok tersebut mengonsumsi video daring, terutama format video pendek seperti TikTok, Reels, dan Shorts, sebagai hiburan utama, dikutip dari (DataReportal: Digital 2026 Indonesia )
Kebiasaan yang tidak baik itu membuat otak lebih terbiasa menerima konten singkat dan dapat menyebabkan seseorang menjadi malas untuk berpikir panjang. Kebanyakan orang menganggap membaca atau menonton dengan durasi yang cukup lama, sekitar sepuluh menit, terasa membosankan.
Fenomena ini juga dapat mempengaruhi kesehatan mental, seperti menurunnya fokus dan konsentrasi, kemampuan analisis, serta perkembangan kemampuan berpikir kritis dan kompleks. Contohnya, ketika pembelajaran menggunakan laptop. Seseorang mudah membuka media sosial seperti YouTube sehingga konsentrasinya terpecah dan sulit memahami materi pembelajaran sampai selesai.
Oleh karena itu, kita bisa mengurangi penggunaan media sosial dengan membuat jadwal satu hari bebas media sosial setiap akhir pekan atau mematikan notifikasi ponsel yang tidak penting. Kita juga dapat memperbanyak membaca buku, menonton video dokumenter, atau mendengarkan podcast edukatif yang utuh. Selain itu, kita bisa mengalihkan waktu ke aktivitas sosial, seperti mengobrol langsung dengan teman atau keluarga, serta melakukan aktivitas fisik seperti memasak, melukis, atau berolahraga tanpa menggunakan ponsel.
sumber referensi
https://wearesocial.com/id/blog/2025/11/digital-2026-top-digital-and-social-media-trends-in-indonesia/
https://digitalcitizenship.id/tips-trik/4-cara-lawan-brain-rot
https://www.klikdokter.com/psikologi/kesehatan-mental/ini-cara-tepat-dan-praktis-mengatasi-overthinking
